Senin, 02 Januari 2012

Sejarah tentang Agresi Belanda ke Asahan

Agresi Belanda ke Asahan
                Pada saat-saat Belanda menunda rencana agresinya ke Tamiang karena soal Slangkat dapat diselesaikan, mereka tetap mempunyai keinginan kuat untuk memukul Asahan yang dianggapnya keras kepala itu. Terhadap Deli, dengan perkembangan ekonominya yang pesat, Belanda tidak dapat berlambat-lambat dalam memperoleh jaminan bagi strateginya untuk menjauh Sumatera Timur.
                Pada bulan Mei 1863, atas anjuran Belanda, Sultan Deli telah memberikan konsesi tanah yang pertama untuk membangun perkebunan tembakau kepada Nienhuys, sukses panen pertama tembakau telah mengejutkan dunia perdagangan, baik dalam negeri maupun pada tingkat Internasional. Di Amsterdam dengan mudah terkumpul modal untuk berlomba-lomba mendapatkan konsesi di Deli.
                Sultan Deli mulai hidup dalam suasana kemakmuran yang baru berkat konsesi-konsesi kepada investor perkebunan. Oleh sebab itu, dengan sendirinya dia merasakan pentingnya kelancaran perkembangan ekonomi. Tapi, rakyat berpandangan lain. Sebagai bukti, perhatikan antara lain catatan Klerck yang mengatakan bahwa pelawat dari seberang (Tanah Melayu) giat berusaha meruntuhkan kekuasaan Belanda. Kepada Sultan Deli dianjurkan supaya segala kapal yang berada dalam kerajaannya menaikkan bendera Inggris, supay Belanda takut melihatnya. Juga Sultan dianjurkan meminta bantuan kepada pemerintah Straits Settlements (rezim koloial Inggris di semenanjung Melayu), seperti dilakukan oleh Sultan Asahan.
                Dalam tahun 1863, untuk melepaskan kepungan Belanda yang sedang dilakukan terhadap Asahan, Sultan Asahan bertolak ke Singapura guna berunding dengan Gubernur Cavenhagh. Kabarnya dalam kesempatan itu pula Sultan Asahan mengadakan hubungan dengan Sultah Asahan kembali menyatakan kesetiaannya dan harapannya akan dibantu secara aktif oleh Aceh melawan serangan Belanda.
                Sultan Asahan tidak mendapat yang diinginkannya dari Gubernur Cavenhagh meski sejak semula diketahui dia adalah anti-Belanda dan bersedia membantu raja-raja di Sumatera Timur. Mungkin Cavenhagh sudah menerima perintah lain dari atasannya tatkala dia memberitahu Sultan Asahan untuk tidak mengharapkan dukungan materiil dari Pemerintahan Inggris. Hal ini sejalan dengan intruksi September 1863 dari London melarang Cavenhagh melakukan suatu apapun yang dapat membuat marah Belanda.
                Namun Cavenhagh sendiri sebetulnya sudah melangkah jauh dalam soal Sumatera Timur. Sebelum Sultan Asahan melawat ke penang, dia menugaskan Fox, komandan kapal Pluto, berangkat ke Singapura, tapi dengan menyinggahi pesisir Sumatera Timur dan menemui raja-raja setempat. Di enang, Residen McPherson menginstruksikan Fox supaya khusus mendatangi Pulau Kampai, Langkat, Deli, Batubara dan Asahan. Dari raja-raja setempat Fox membawa surat-surat dari mereka meminta perlindungan Inggris.
                Walaupn kontak sudah diadakan, Inggris sebenarnya tidak berniat member dukungan kepada raja-raja di Sumatera Timur. Mereka hanya ingin memperlihatkan suatu sandiwara agar Belanda kebingungan dan dari kebingungan itu Belanda terperosok untuk bertindak semberono yang membangkitkan permusuhan raja-raja terhadap Belanda. Tujuannya untuk menenangkan kepentingan Inggris.
                Para pedagang di Semenanjung Melayu, baik Eropa, maupun Tionghoa dan Melayu, membanjiri raja-raja di Sumatera Timur dengan surat-surat berisi pernyataan simpati dan solidaritas, sampai mengatakan bahwa Belanda adalah bajak laut ganas yang harus dilawan. Situasi ini berkembang sampai awal 1865. Bersamaan dengan langkah saling lempar protes, Belanda dan Inggris menggelar perundingan-perundingan rahasia tingkat tinggi di Eropa.
                Dalam pada itu, rencana Belanda sendiri untuk menguasai seluruh Sumatera jalan terus, dengan lebih dulu memisahkan Sumatera Timur dan Tamiang dari Aceh. Berikutnya langsung terhadap Aceh sendiri. Supaya Aceh melupakan Sumatera Timur dan Tamiang dengan memusatkan perhatiannya pada daerah-daerah pantai sekitar ibukotanya, Belanda menyebar berita palsu bahwa tahun 1865 Belanda siap untuk menyerang Aceh. Nampaknya siasat belanda ini berhasil. Belanda membuat serangan percobaan ke Batubara. Ini terjadi pada bulan Juni 1865 ketika armada Belanda berkekuatan empat kapal, Jambi, Montadir, Delfzijl, dan Dasoon, dating ke Sumatera Timur dibawah pimpinan Letkol Laut van Rees bersama Residen Netscher sebagai kepala politiknya. Memang, tidak ada serangan balasan dari Aceh.
                Tanggal 8 Juli 1865 rombongan sampai di Kuala Batubara. Kebetulan waktu itu sedang terjadi perpecahan di kalangan pembesar Batubara. Kedatangan armada Belanda disambut oleh kepala pemerintahan yang dibantu Belanda via Siak. Tapi, Datuk Laksamana Putera Raja, yang pro Aceh dan Asahan berkeras menolak menemui Belanda. Nampaknya Puteraraja memperoleh dukungan luas dan pertahannya lebih kuat. Netscher tidak berani turun dan meneruskan perjalanan ke Deli. Dia mendapat kabar bahwa Serdang juga sudah bersiap-siap menghadapi setiap kemungkinan bila dating serangan Belanda. Netscher tidak berani turun ke darat dan meneruskan perjalanan ke Deli dan berikutnya ke Serdang. Karena gagal di kedua tempat, Netscher berangkat menuju Batavia untuk melapor.
                Sultan Asahan, Ahmad Syah, sudah lama menyiapkan pertahanan negerinya. Kesiagaan ditingkatkan setelah diketahui Kontrolir Scheemaker sengaja berkeliaran dari pangkalannya di Smuatera Timur untuk menyebar Intrik dan menghubungi kaki tangan-kaki tangan Belanda. Scheemaker disiapkan menjadi “kontrolir bayangan” untuk Batubara, disamping calon kontrolir untuk Asahan.
                Sultan Ahmad Syah mengadakan kontak dengan Sultan Aceh melalui Penang, sebab hubungan langsung bisa berbahaya. Dalam kontak tersebut, kedua pemimpin meneguhkan tekat sabil mereka. Ahmad syah memberika kuasa kepada seorang pengacara Inggris di penang, yang juga menjabat ketua Chamber of Commerce (kamar dagang), bernama Lawrence Nairne, untuk atas nama asahan membeberkan bukti-bukti penetrasi Belanda dan memperjuangkan hak-hak Asahan kepada para pejabat tinggi di London.
                Bulan April 1865 sebuah kapal perang Inggris De Ceven mengunjungi Sumatera Timur, tapi hal itu hanya merupakan gerak untuk maksud tertentu Inggris terhadap Belanda. Memori yang disampaikan oleh Nairne kepada kalangan tingkat tinggi dan kepada pers, pun tidak lebih dari sekedar move (langkah) untuk memenuhi kepentingan Inggris. Dalam kerangka itu, anggota parlemen Inggris mengajukan berbagai pertanyaan kepada pemerintah untuk membuka perdebatan soal Asahan dengan tema pokok “The Dutch agressions in Sumatera” (Agresi Belanda di Sumatera).
                Kegiatan Ahmadsyah lainnya adalah mengirim utusan ke Panai dan Bilah guna membangun koalisi Sabili’llah. Utusan tersebut membawa surat berisi ajakan bersatu dengan dalil-dalil tentang kewajiban bangsa Melayu yang beragama Islam untuk menentang serangan Kafir. Isi surat ini kemudian berhasil dirampas oleh Belanda dari tangan Sultan Panai. Perutusan Asahan ke Panai dan Bilah, seorang Anti-Belanda yang keras, dibantu oleh Tengku Adil. Dalam maneuver ini mereka menggunakan tujuh longkang dengan lebih kurang 100 prajurit laut yang dipersenjatai sebanyak 20 meriam kecil (lela). Dari Panai dan Bilah mereka meneruskan aksi penggalangan ke Kota Pinang. Namun, sayangnya, ketiga negeri itu merasa sudah tertekan dan menganggap perang sabil terlambat.
                Pada bulan Mei 1865, Asahan mendapat kabar bahwa Kontrolir Scheemaker sedang berlayar di perairan Batubara. Pasukan dibawah pimpinan Datuk Setia Raja segera mengejar Belanda ke sana. Scheemaker berhasil melarikan kapalnya ke sungai Padang dan bersembunyi disana. Tatkala bertemu dengan Datuk Setia, Scheemaker menyatakan bahwa saat itu dia berada di wilayah yang sudah menjalin persahabatan dengan Belanda, jadi sudah diluar teritor Asahan. Namun Datuk Setia Raja menantang Scheemaker untuk adu senjata, tapi pejabat Belanda itu menolak. Tentang peristiwa ini, seorang pelapor, C.A. Kroesen, menyembunyikan rasa takut Scheemaker dengan kalimat. “…day zonder de bedaarde houding van dien ambtenaar er ongetwijfeld bloed zou aijn gestori” [Terjemahannya: Kalau saja (Scheemaker) tidak sabar pastilah terjadi pertumpahan darah].
                Seperti kata orang Belanda, suasananya memang sudah onhoudbaar buat Belanda. Netscher ke Batavia untuk membicarakan situasi dengan gubernur jenderal secara mendalam. Atas dasar pendapat-pendapat dan laporan Netscher, Belanda memutuskan untuk melancarkan peperangan terhadap Asahan. Putusan Batavia itu diambil dengan beslit 25 Agustus 1865 No. 1, tentang perintah mengerahkan pasukan Infantri sebanyak setengah batalyon, dengan staf satu datasemen dari seorang perwira dengan 25 prajurit kesatuan meriam, dua veldhouwitser dan dua mortar dari 12 jari, dua orang dokter militer dan pegawai-pegawainya. Sepanjang catatan resmi Belanda seluruhnya berjumlah 179 orang Belanda dan 227 bumiputera. Sebagai kekuatan laut, lima kapal perang diberangkatkan, yaitu Jambi, Amsterdam, Sindoro, Montrado,  dan Delfjzil, ditambah kapal perang Dasoon dan kapal-kapal jaga lainnya yang berada di Riau. Kapal-kapal ini mengangkut 1500 orang prajurit laut dengan 80 meriam. Dalam rombongan ini turut juga 150 orang hukuman yang dipakai sebagai tameng di baris depan.
                Sebagai komandan ekspedisi laut ditugaskan Letnan Kolonel Laut P. A. van Rees, sementara untuk pasukan darat adalah Mayor W. E. F. van Heemskerek.sebagai pemimpin bagian politik, ditugaskan wakil gubernur jenderal, didampingi oleh Presiden Riau Netscher dengan beberapa asisten residen, kontrolir, dan tidak ketinggalan wakil sultan Siak. Tanggal keberangkatan ditetapkan 30 Agustus 1865, mampir di Riau 3 September. Pertahanan disini tidak begitu kuat, dan rupa-rupanya beberapa kelompok penduduk bersedia membantu Belanda. Pasukan ekspedisi Belanda lalu bergerak ke kampung Bagan untuk mencari Datuk Leksamana Putera Raja, kepala pertahanan di Batubara. Kebetulan Datuk Leksamana sedang ke Serdang berunding dengan Sultan. Dijumpai hanya anaknya Orang Kaya Abdullah. Rumahnya dikepung, dia menyerah dan dengan kasar digiring ke kapal. Rumahnya dibakar habis, sesudah harta bendanya digarong dan dibagikan kepada pasukan penyerbu. Pun kampun-kampung yang tidak segera menyerah, dan tempat-tempat yang difitnah, menjadi sasaran penyerbuan dan perampokan oleh Belanda.
                Menurut Rees, diantara pemandu yang membantu penyerbuan ke Asahan terdapat 2 orang, yaitu Haji Baki dan Sowo, dikeduanya tinggal di Kampung Rawa. Dengan bantuan penunjuk jalan, serangan dilakukan di dua front, jalan darat dari Rawa dan setelah 2 hari bertemu dengan tentara yang diturunkan dari kapal yang masuk ke sungai Asahan sesudahnya menunggu di Bagan Asahan untuk menyerbu kota bersamaan. Tapi, rencana ini tidak dapat dilaksanakan karena perlawanan keras dari pertahanan darat. Belanda mundur dan terpaksa mengubah taktik.
                Selagi berlabuh di Batubara, Netscher mengirim ultimatum kepada Ultan Ahmad Syah di Tg. Balai. Ultimatum, yang disebutnya manifest dan bertanggal 15 September 1865, penuh dengan kata-kata sombong. Karena merupakan dokumen historis mengenai agresi Belanda dengan semangat kolonialnya pada zaman itu, juga bertalian erat dengan sejarah Aceh, ada baiknya dikutip sepenuhnya disini.
                [“Mengingat bahwa residen tanggal 8 Agustus 1862 telah menyampaikan keinginan untuk menemui Sultan Asahan untuk memberitahukan kepadanya supaya jangan bermusuhan dengan sahabat Belanda, tentang keinginan mana telah dibalas surat oleh Asahan akan dituruti.
                Mengingat bahwa residen dengan surat tanggal 10 September 1862 telah mengundang Sultan supaya dating ke kapal untuk berunding dalam hal memajukan Sumatera Timur, dan sudah dijamin lebih dulu padanya hasil pertemuan tidak akan berakibat menurunkan kedudukannya.
                Mengingat bahwa surat tanggal 12 September 1862, Sultan telah menjawab bahwa dia tidak bisa dating ke kapaldengan alas an takut mabuk laut, hal mana tidak saja bohongtapi juga memalukan residen yang mewakili pemerintah Hindia Belanda.
                Mengingat bahwa surat tanggal 12 September 1862 sudah diingatkan kepada Sultan agar jangan terpengaruh dengan petualang yang menghasut supaya jangan bertindak apa-apa sehingga akibatnya telah merugikan dagang baik Belanda maupun Inggris, demikian juga telah ditanya kepadanya siapa yang mengizinkan orang menaikkan bendera Inggris di negerinya.
                Mengingat, bahwa walaupun sudah dikatakan bukan dia yang telah memerintahkan menaikkan bendera Inggris itu, tidaklah dapat dipercaya:
1.       Karena tanggal 8 Mei 1862 sebuah kapal jaga Belanda telah diserang oleh Panglima Asahan, katanya atas perintah Sultan.
2.       Karena Sultan menaikkan bendera Inggris baik di kapalnya maupun di darat.
3.       Karena dia menyerang Padang, hal mana merugikan dagang.
4.       Karena dia ingkar dibawah Siak, yang sudah menjadi sebagian wilayah Hindia Belanda.
Mengingat, bahwa dengan surat tanggal 14 Mei 1865 Sultan sudah mengajak Sutan Panai supaya bersama-sama menyerang Belanda, dan jangan setia pada Belanda sebab diharap perlindungan Inggris.
                Mengingat, bahwa itu Sultan Asahan tidak hanya berniat memusuhi pemerintah Hindia Belanda, tetapi mengelabui orang-orang karena dikatakan Inggris sedia melindunginya, pada hal Ratu Inggris dan Raja Belanda, adalah dua sahabat, halmana member mereka malu karenanya.
                Mengingat bahwa Sultan Asahan dengan suratnya 2 Rabi’ul Awwal 1282 kepada Residen Riau telah mengatakan tunduk di bawah sultan Aceh padahal dia tidak bisa menjelaskan sejauh mana kekuasaan Aceh atasnya, dan juga tidak dapat menjelaskan kenapa dipasang bendera Inggris di negerinya dan kenapa kapal Belanda diserang oleh panglimanya.
                Mengingat, sekalipun merasa diberi malu, pemerintah Belanda masih member kesempatan kepadanya guna menghindarkan malapetaka yang mungkin tiba akibat peperangan, yang akan mengancamnya jika dia tidak member penjelasan atas pemberian malu yang telah ditumpahkannya.
                Maka residen Riau sebagai wakil gubernur jenderal meminta kepada Sultan Asahan dan orang-orang besarnya supaya dalam tempo 12 jam sesudah menerima manifest ini dating menemui residen di kapal Jambi yang sedang berlabuh di kuala Asahan atau di kuala Batubara, untuk mendengarkan bagaimana putusan terhadap negerinya.
                Supaya tidak terjadi permusuhan sia-sia, Sultan Asahan diminta segera menyampaikan surat jawaban atas manifest ini kepada perwira angkatan laut/darat terdekat. Kapal Jambi 12 September 1865. Netshcer, residen Riau”].
Sultan Ahmad Syah tidak mengacuhkan ancaman Belanda dan siap untuk melawan. Sebetulnya, Belanda sendiri tidak menunggu jawaban atas ultimatumnya karena tentaranya didarat sudah bergerak. Di Tg. Balai diterima berita tentang kedatangan pasukan Belanda secara besar-besaran dengan persenjataan lengkap siap untuk menyerang. Namun bagi Ahmad Syah, Tengku Pangeran dan Tengku Adil, tiga saudara yang tetap anti-Belanda, tidak ada pilihan selain menentang agresi Belanda dan, kalau gagal, tidak akan menyerahkan Asahan secara sukarela. Ketiga mereka adalah tokoh yang menentukan perlawanan terhadap Belanda pada masa itu. Mereka adalah bersaudara 1 ibu dan 1 ayah. Orang tua mereka, Raja Husin, ketika dilantik menjadi raja bergelar Yang Dipertuan Besar Husinsyah, menikah dengan puteri bernama Sulung Panai, puteri Tengku Tua orang besar Asahan yang mengambil puteri seorang Raja Panai. Dari perkawinan itu, Husinsyah berputera Ahmad Syah (Yang Dipertuan Besar Ahmad Syah), Pangeran (Tengku Pangeran besar Muda, propagandis anti-Belanda), dan Adil (Tengku Adil) yang juga anti-Belanda seperti kedua abangnya. Adik-adik mereka perempuan bernama Tengku Tengah (kawin dengan yang dipertuan muda Kualuh), Tengku Puteri (tidak kawin), Tengku Kecik (istri Tengku Pangeran Deli) dan Tengku Sonet (istri Raja Panai pada masa itu).
Menurut sejarah, sejak putera Sultan Iskandar Muda Aceh, Sultan Abdul Jalil I (±1630), menjadi Sultan Asahan, dinasti ini terus kontinu dengan tiada putus dari anak ke anak, yaitu Jalil ke anaknya Said, ke anaknya Rum, dan ke anaknya Jalil (Sultan Abdul Jalil Syah: 1760-1765). Jalil seorang pintar, pejuang dan nekat. Ketika Raja Alam, Sultan Siak, anak Raja Kecik, Raja Riau keturunan Minangkabau yang kesohor minta tolong kepada Jalil di Asahan untuk membantunya dalam peperangan, atas bantuan Asahan peperangan ini berhasil dimenangkan oleh Siak. Ketika Jalil menemani Raja Alam melawat ke Malaka dan menjadi tamu gubernur Malaka, Jalil meninjau kota yang sudah dikuasai oleh Belanda, menyadari betapa besarnya kerajaan Melaka dulu dan betapa enaknya Belanda dengan kekejamannya di atas runtuhan kerajaan Melayu itu. Tidak lama setelah pulang ke Asahan, dia meyakini bahwa Belanda bukanlah sahabat. Karena itu Abdul Jalil, yang darah Acehnya mengalir sebagai keturunan Iskandar Muda, menghasut dan membakar semangat Raja Alam untuk menghalau rezim Hindia Belanda dari Siak. Jalil bersedia membantu Raja Siak. Dalam penyerangan ke Pulau Gantung, benteng Belanda yang terkuat (lambang penjajahan Belanda di Siak pada masa itu) berhasil direbut dan orang-orang Belanda disitu melarikan diri. Abdul Jalil, tidak berapa lama setelah kembali diAsahan, mangkat di Sungai Raja Kampung Baru pada tahun 1765. Dialah yang disebut marhum Mangkat Disungai Raja.
Abdul Jalil digantikan oleh anaknya Dewa Syah. Berikutnya, sesudah mangkat, dia diganti oleh anaknya yang tua, Musa, yang meninggalkan isteri sedang mengandung. Dengan sendirinya, kerajaan (menurut adat dan disetujui rapat) beralih kepada adik kandung satu ibu dan satu ayah, bernama Ishak. Tuntutan mengangkat Ishak menimbulkan pertikaian dari pihak yang menilai bahwa anak Musa, yang masih dalam kandungan ibunya, adalah pewaris kesultanan yang sah. Akhirnya, dicapai satu kebijaksanaan meluaskan wilayah Asahan ke Kualuh dan Ishak dilantik menjadi yang dipertuan muda berkedudukan di Kualuh.
Sesudah Musa, ke anaknya Husin. Sesudah Husin ke Ahmad Syah, yang sekarang sedang menghadapi agresi di Belanda. Saat itu yang dipertuan muda Kualuh sudah diganti anaknya., yakni Nakmalu’lah. Dalam hubungan dengan agresi Belanda di Asahan, ada satu catatan yang tidak menggembirakan, yaitu kerja sama Nakmalu’llah dengan Belanda. Tidak menggembirakan karena hal itu melemahkan perjuangan di Asahan.
                Pada 17 September 1865, pasukan darat Belanda baru dapat bergerak dari kampung Rawa. 18 September masih berada di Sungai Bunut dan tidak dapat maju hingga 22 September. Dari situ Belanda menuju Sentang, terkepung disini selama 2 hari, lalu menembus ke sungai Si Rantau. Dari situ Belanda mencoba ke Rantau, tapi terhenti lagi. Di sekitar daerah ini pertahanan Asahan kukuh.
                Belanda dapat bergerak ke jurusan Tg. Balai dengan menggunakan kapal tanpa banyak kesulitan. Pada 17 September, kapal-kapal perang Belanda berangkat dari Batubara. Pada 18 September, kapal perang Dasoon tiba tengah hari di Tg. Balai, lalu mendaratkan Mayor Heemskerck dan residen Netscher. Mereka memasuki Tg. Balai yang sepi karena semua penduduk telah mengungsi, kecuali pengusaha-pengusaha Tionghoa. Pertahanan anti-Belanda dipindah keluar kota. Perjuangan diteruskan sampai bertahun-tahun oleh pejuang-pejuang suku Batak di daerah-daerah pedalaman.
                Belanda menaikkan benderanya di Tg. Balai dan bersorak sorai keliling kota seperti orang gila dan menggarong harta benda penduduk. Belanda puas dapat menguasai Tg. Balai sebagai ibukota, padahal daerah luar masih sepenuhnya dikuasai oleh kerajaan.  
                Membaca laporan pendaratan tentara Belanda di Asahan, seperti diuraikan diatas, bisa menimbulkan kesan bahwa Belanda telah berhasil mendarat dan masuk Tg. Balai tanpa perlawanan. Sebetulnya, sebagaimana banyak didapati di dalam sejarah kita, kelemahan kita tidak adanya laporan dari saksi mata pihak kita sendiri bagaimana kita menghadapi operasi militer Belanda. Karenanya, peristiwa sejarah selalu ditulis berdasarkan ingatan, dugaan, atau cerita orang-orang tua di masa mudanya, lalu diceritakan turun temurun. Atau kalau ini tidak ada sama sekali terpaksa diambil catatan-catatan sepihak dari sumber Belanda (lawan) dari catatan harian mereka, yang bersifat subyektif, berat sebelah, menguntungkan diri sendiri untuk menyenangkan atasan atau memperoleh pujian. Meski catatan tentang perlawanan terhadap Belanda sangat sedikit, sedikit banyak dapat juga dikais petunjuk-petunjuk yang bisa dipakai sebagai fakta bahwa telah terjadi perlawanan sengit dari para pejuang anti-Belanda.
                Sebagai contoh, catatan tentang pendaratan pasukan Belanda dari sumber Belanda menunjukkan seolah-olah Belanda dengan cepat dapat menduduki Tg. Balai. Tapi, jika diteliti lebih jauh, faktanya tidak demikian. Armada Belanda yang bertolak dari Batubara tanggal 17 September dan tiba di Bagan Asahan tengah hari itu juga, untuk seterusnya menuju Tg. Balai dengan formasi satu flotilla terdiri dari tujuh sloep ditambah lima sloep pengangkut tentara darat, tiga kruisboot dan satu hulpboot, ditulis oleh sumber Belanda baru bisa tiba di tujuan satu setengah hari kemudian. Padahal, dalam kondisi Sungai Asahan pada masa itu, jarak antara Bagan dan Tg. Balai dapat dicapai dalam waktu satu jam dengan kapal mesin yang bergerak perlahan-lahan sekalipun. Maka dapat dipastikan, saat itu armada Belanda itu telah mendapat perlawanan dari pihak Asahan.
                Demikian juga, pasukan Belanda yang bergerak dari Batubara melalui darat yang memakan waktu seminggu. Padahal, selambat-lambat perjalanan kaki, jarak yang sama bisa dicapai dalam 2 hari. Maka dapat diduga ofensif militer Belanda secara besar-besaran itu telah menemui perlawanan gigih.
                Dalam kenyataannya, operasi gerilya di Asahan berlangsung sangat seru selama lima tahun (1865-1670). Sementara untuk mengembangkan pendudukannya Belanda menghabiskan waktu 20 tahun. Memang, Ahmad Syah akhirnya ditangkap Belanda dan dibuang ke Tg. Pinang. Bertahun-tahun dia menolak ajakan kerjasama. Sesudah uzur dan mengetahui bahwa Aceh menghadapi agresi Belanda selama bertahun-tahun, barulah dia bersedia dipulangkan ke Asahan dari tempat pembuangannya di Tg. Pinang dan diangkat sebagai Raja. Kontrak politik dengan Belanda ditandatangani olehnya dalam satu upacara di Bengkalis tanggal 25 Maret 1885. Hanya dua tahun sesudah kembali menjadi raja Asahan, Sultan Ahmad Syah meninggal dunia di Tg. Balai.
                Selanjutnya, sedikit mengenai perlawanan Asahan sejk Belanda berhasil menduduki Tg. Balai. Menurut sumber Belanda, ketika Belanda meneruskan penyerangan ke Si Rantau dan menduduki ibukota kedua Asahan ini, Sultan dengan kedua saudaranya (Tengku Pangeran dan Tengku Adil) beserta keluarga sempat mundur ke Huta Buru di daerah pedalaman, sepuluh hari perjalanan dari Tg. Balai. Sumber Belanda juga mengatakan dalam bulan September 1866, Si Rantau dikuasai kembali oleh kaum gerilya suku Batak yang gigih, padahal letak Si Rantau tidak jauh dari kota Tg. Balai. Ternyata Belanda hanya bertahan sekitar pecan Tg. Balai. Dan, setelah diduduki Belanda, Si Rantau berhasil direbut kembali oleh penduduk yang bergerilya.
                Menurut sumber-sumber lainnya, pemimpin gerilya pro-Ahmad Syah nomor satu adalah Pa Netak, Penghulu Bandar Pulau. Dia memimpin perlawanan total. Perlawanan ini seru karena Belanda mengangkat Yang Dipertuan Muda Naklamu’llah sebagai sekutunya. Naklamu’llah dari Si Rantau mendatangi kapal Belanda Dasoon dengan membawa bingkisan untuk mengajak Belanda bekerja sama. Dia dibawa ke Tg. Balai dalam perlindungan Belanda.
                Tapi, catatan sumber Belanda melaporkan keadaan Tengku Naklamu’llah dengan kalimat yang berbunyi “het gerucht verspreid dat de Jang Dipertuan Muda met op den rug geknevelde handen aan boord van den Dasoon in verzekerde bewaring gehouding werd”. [Terjemahannya: “Terisar cerita yang mengatakan bahwa Dipertuan Muda ditangkap, diikat tangannya kebelakang, dinaikkan ke kapal Dasoon dan ditahan disitu]. Kabar ini mustahil dilebih-lebihkan. Jadi kalau kasus penangkapan yang dipertuan muda tersebut dijadikan pegangan, kemungkinan besar latar belakangnya adalah bahwa musyawarah di Si Rantau memustuskan sebagian pejuang mengungsi ke pedalaman, sebagian besar lagi bertahan di Si Rantau untuk meneruskan perlawanan terhadap Belanda. Dalam pertempuran dengan Belanda, Naklamu’llah kalah, ditangkap dan dibawa ke Tg. Balai. Setiba disitu kemungkinan dia dianiaya dan dipaksa untuk bekerja sama sebagai waarnemend sultan. Peristiwa Naklamu’llah ini memicu perlawanan rakyat. Gerakan subversive di Tg. Balai mendapat bantuan materi secara sembunyi dari pedagang-pedagang Tionghoa di Asahan yang beroperasi secara berantai, baik dikota maupun di kampung-kampung untuk seterusnya dihubungkan ke Penang. Latar belakang sokongan untuk gerakan ini mudah saja diketahui: Belanda memacetkan perdagangan, tongkang-tongkang pulang kosong ke Penang. Kalau Melayu terus melawan dan Inggris mendukung, bisa diharap Belanda akan gagal dan perdagangan akan maju lagi. Jadi, alasannya semata-mata kepentingan dagang.
                Untuk pembenaran yuridis formalnya, meski tetap tidak sah mengingat Asahan bukan wilayah Siak, Netscher meminta mandate dari Sultan Siak untuk menobatkan Nakmalu’llah menjadi waardemend Sultan di Asaham. Sultan Siak yang dalam keadaan lemah mengeluarkan mandate yang diminta. Sesudah mendapatnya, Netscher meminta kepada Nakmalu’llah untuk memilih: masuk kandang emas atau kandang besi. Alhasil, dia memilih kandang emas yang empuk. Nakmalu’llah memilih yang terbaik dari fait accompli itu, yaitu menjadi waarnemend sultan.
                Nakmalu’llah segera dimanfaatkan, sebab kekacauan akibat serangan Belanda belum teratasi. Mereka memblokade sungai dan lalu lintas lain untuk mencegah penyelundupan garam dan senjata ke daerah pedalaman. Tapi, para pejuang tetap memberikan perlawanan sengit. “Bijna alle Bataksche hoofden kwamen in verzet en wenschten Tengku Ahmad als vorst terug te hebben”, kata Hamerster [Tejemahannya: hampir semua penghulu-penghulu Batak melawan dan menuntut pulangnyaAhmad Syah sebagai Raja].
                Keamanan yang terganggu sedemikian hebat, membuat Belanda memutuskan untuk tidak mengambil resiko besar. Tugas Nakmalu’llah adalah mematahkan perlawanan gerilya dari bangsanya sendiri. Dia meminta bantuan Tengku Tengah, isterinya yang baik kandung Sultan Ahmad Syah.pada suatu ketika, dalam kondisi mengandung, Tengku Tengah terpaksa mengikuti rombongan Kontrolir Van den Bor ke pedalaman untuk dijadikan tameng dan membujuk kaum gerilya supaya menyerah. Namun usaha ini sia-sia saja, karena setiba di Aik Kianga antara Buntu Panai dan Asahan, rombongan berjumpa dengan Raja Buntu Panai dan Pasir Mendogei yang melarang keras rombongan meneruskan penyusupan ke pedalaman. Alasannya, raja dan rakyat Batak sudah bersiap di Sintang untuk menyergap Belanda.
                Alhasil, karena Van den Bor takut mati, mereka mundur ke Tg. Balai. Mengenai Tengku Putri, adik Ahmad Syah, dia bertugas ke daerah pedalaman membawa uang, candu, garam dan barang-barang lain yang sudah lama tidak pernah masuk Asahan. Namun semua itu tidak bisa mematahkan perjuangan kaum gerilya Asahan.
                Untuk ringkasnya baiklah diceritakan sebagai berikut.
                Karena sudah putus harapan tidak mampu mengamakan Asahan, baik dengan cara kekerasan yang dilakukan Belanda maupun oleh Nakmalu’llah yang terpaksa itu,maka Belanda mempunyai ide untuk menampung seluruh tuntutan dan ancaman raja-raja Batak dari pedalaman. Mereka menegaskan bahwa peperangan tidak akan dihentikan selama Ahmad Syah belum kembali ke singgasananya. Terhadap tuntutan itu Belanda mengajukan satu usul melalui yang dipertuan muda, yakni (1) Belanda setuju memulihkan kedudukan Ahmad Syah dan tidak akan menaklukkan Asahan, tapi dia harus bersahabat dengan Belanda saja, dalam pengertian bahwa Asahan tidak akan memasukkan orang Eropa lain ke Asahan selain Belanda, dan juga tidak akan mengikat perjanjian apapun dengan raja-raja di kepulauan Nusantara tanpa persetujuan Belanda, dan (2) soal dalam negeri tidak akan dicampuri oleh pegawai Belanda, kecuali agar sultan turut memajukan perekonomian, terutama di bidang perkebunan yang sudah mulai berkembang waktu itu dengan hasil-hasil sudah dicapai Nienhuys di Deli.
                Tatkala dirundingkan lebih lanjut, terutama mengenai penarikan militer Belanda dari Asahan kecuali di tempat-tempat yang merupakan bagian kedaulatan Hindia Belanda, yang tak dapat dicampuri oleh Asahan, maka disepakati untuk mengadakan genjatan senjata dan mengizinkan Tengku Ahmad Syah, Tengku Pangeran dan Tengku Adil dengan keluarga mereka pulang ke Asahan. Ini terjadi menjelang akhir tahun 1865.
                Namun Netscher menyetujui genjatan senjata untuk berlegah. Dia memang seorang yang cakap, licin, pandai main sandiwara, bisa menguntungkan Belanda dari setiap taktik dan kebijakan yang dijalankannya. Dia menyampaikan kepada atasannya apa yang terjadi, tapi tidak meminta atasan memecahkan masalah yang dihadapi. Dia hanya meminta dari Batavia penetapan status Asahan, apakah menjadi proktetorat (wilayah yang dilindungi Belanda) atau terus dibawah kedaulatan ganda via Siak.
                Surat menyurat antara opperbestuur (kabinet Belanda) dengan gubernur jenderal Hindia Belanda di Batavia mengenai perkembangan ini berkisar antara lain tentang soal pentingnya Asahan diduduki oleh militer disamping perlunya menempatkan seorang kontrolir yang menjalankan fungsi kesultanan. Keputusan yang diambil disalin ke bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
                “Dewasa ini harus dijawab bagaimana soal Asahan, dimana kini duduk seorang kontrolir dengan hanya sedikit kekuatan militer.
                “Sejak semula telah dipahami, bahwa cara itu tidak tepat, sebab bisa mengesankan bahwa ekspedisi yang sudah dilakukan tidak berhasil sedikitpun.
                “Terutama pula mengingat adanya beberapa peringatan dari pihak pemerintah Inggris dan tidak ada kepercayaan dari pihak penguasa Inggris di Straits [Semenanjung Melayu] terhadap hubungan yang kita bangun di Sumatera Timur, maka semula diinginkan supaya kita bersikap menunggu saja dulu, tidak melanjutkan tindakan apa-apa selain menjaga yang sudah dikuasai.
                “Pun nampaknya pemerintah Hindia Belanda seperti melakukan penundaan untuk mengambil sikap tegas terhadap soal apakah Asahan dikuasai terus atau dilantik saja seorang Raja Asahan.
                “Kini sudah jelas, bahwa untuk meneguhkan kekuasaan kita dan untuk memelihara keamanan di sana demi kepentingan kedaulatan Belanda, perlu diambil sikap lebih tegas, suatu sikap yang keputusannya harus dikeluarkan dari negeri Belanda langsung.
                “Sebagai alasan untuk meneruskan pendudukan di Asahan adalah bahwa jika pemerintah membiarkan kerajaan itu kembali seperti keadaan semula (sedikit sekali pengawasan militer) pastilah perlawanan akan meningkat hebat kembali, dan akibatnya saudagar-saudagar Tionghoa akan bertambah giat memperluas pengaruh Inggris dan menarik keuntungan dari negeri itu.
                “Akibatnya keamanan terhadap pribadi dan harta benda akan terganggu, sedangkan kalau pemerintah Belanda membiarkan Asahan seperti itu akan menderita kerugian, pedahal sudah banyak korban.
                “Bahwa sudah jelas Asahan adalah suatu tanah yang makmur, kiri kanan sungainya sebelah hilir penuh penduduk, padi ditanam dan diekspor, sementara disana hasil-hasil hutan mendorong perdagangan yang ramai.
                “Bahwa perdagangan akan ramai lagi, tapi jika raja tidak ada, harga barang menjadi liar (catut).
                “Anjuran supaya ditempatkan pegawai Belanda dangan kekuatan militer, kami tidak keberatan”.
                “Tapi mengenai usul residen Riau supaya Tg. Balai, dimasukkan ke dalam daerah langsung Gubernemen, oleh Gubernur Jenderal tidak diberi penjelasan secukupnya, sebab itu tidak dapat dipertimbangkan.
                “Kami tidak keberatan untuk melantik Raja Asahan atas dasar petunjuk di atas”.
                Surat pemerintahan Belanda ini menunjukkan bahwa terhadap Asahan perlu diambil tindakan militer dan lain-lain untuk mempertahankan kekuasaan Belanda. Karena negeri belanda tidak ingin melonggarkan sikapnya terhadap Asahan, maka penguasa di Batavia lalu mengkhianati rencana pemulihan Sultan Ahmad Syah yang semula disetujui. Belanda menyempaikan kepada yang dipertuan muda bahwa dia akan dilantik dan Ahmad Syah akan ditangkap serta dibuang. Langkah pertama adalah menangkap pangeran dan membuangnya ke Ambon. Diam-diam Belanda telah mengatur rencana jahatnya untuk menangkap Ahmad Syah yang sudah lama menunggu penyelesaian. Di sekeliling Asahan tidak lagi ada daerah merdeka yang bisa diharapkan membantu Asahan. Blokade ketat ke pedalaman berakibat  bahwa perlawanan hanya dapat dilakukan dengan cara gerilya.
                Pengikraran Belanda untuk memulihkan Ahmad Syah sebagai sultan telah berakibat meningkatnya perlawanan gerilya. Naklamu’llah, yang sudah dilantik menjadi yang dipertuan Asahan, Kualuh dan Leidong, harus menghadapi sendiri perlawanan gerilya itu. Makin lama ia makin dianggap musuh oleh bangsa sendiri. Sebaliknya, makin lama dia makin ditekan oleh Belanda supaya menekan saudara dan sultannya, Ahmad Syah. Baginya tidak ada pilihan lain selain terus menjepit Ahmad Syah, sebaliknya bahaya terhadap keselamatan dirinya terus meningkat.
                Ahmad Syah bernama Tengku Adil ditahan. Meski terjadi perlawanan hebat, akhirnya Belanda memutuskan untuk mengasingkan mereka ke Tg. Pinang. Dia diberangkatkan dengan keluarganya pada 12 Agustus 1867 dari Tg. Balai, dilepas dengan ratap tangis ribuan rakyat.
                Sesudah Ahmad Syah diasingkan, ternyata perlawanan masih seru. Alhasil, Belanda memilih memenuhi keinginan kaum gerilya yang minimum. Keinginan itu ialah lebih baik beraja kepada kontrolir Belanda daripada yang dipertuan muda. Belanda memerintahkan supaya yang dipetuan muda pindah ke Kualuh. Pemerintahan Kerajaan Asahan diwakili oleh suatu Dewan Kerapatanyang terdiri dari kontrolir sebagai ketuanya dan segala datuk-datuk sebagai anggotanya. Ketegangan menjadi sedikit reda. Tapi, Pa Netak tidak mau berdamai dan melanjutkan perlawanan dengan tekad mati atau Asahan merdeka kembali dengan Ahmad Syah sebagai Rajanya. Tahun 1870 dia terus bergerilya sampai akhirnya dia dikhianati dan terbunuh di Dolok. Demikianlah akhir perlawanan Pa Netak, yang sebetulnya cukup panjang.
                Hasil operasi politik dan militer Belanda di Asahan ini, meski terkendala beberapa tahun menjelang invasi k Aceh, nampaknya tidaklah sia-sia bagi mereka. Tidak lama setelah Asahan terpukul, Belanda mendatangkan serdadunya ke Tamiang. Besarnya kekuatan Belanda dan pentingnya pertahanan Aceh dipusatkan di ibukota Aceh sendiri berakibat tidak mungkinnya Pulau Kampai dipertahankan.
                Beberapa minggu sebelum kedatangan militer Belanda, Tuanku Hasyim telah pergi ke Aceh. Kekuatan di Pulau Kampai yang diwakilkan kepada Tuanku Hitam, hanya sanggup mengadakan perlawanan beberapa hari. Akhirnya Tuanku Hitam menarik mundur kesatuannya ke Air Masin (Majapahit, Langsa) untuk kemudian melanjutkan perlawanan secara bergerilya. Sementara Belanda menguasai Tamiang dengan mengangkat kejuruan yang bersedia takluk, sebaliknya menghukum orang-orang yang pernah melawan mereka. Belanda juga menangkap orang yang dianggapnya bertanggung jawab terhadap peristiwa kematian dua saudagar Tionghoa dari Penang tahun lalu. Pangerang Langkat diperintahkan untuk menghukum mati orang tersebut.
                Tidak lama sesudah patahnya perlawanan Asahan, sultan Serdang menandatangani pengakuan setia kepada Belanda, tapi wilayah Denai, Percut dan sungai Tuan ditarik dari kekuasaannya.
                Meski Asahan telah diduduki, nafsu lama Belanda untuk menyerang Aceh masih belum dapat dilaksanakan segera, karena mesih tergantung kepada sikap Inggris. Pada tahun 1867, Belanda mencoba mengintai situasi Aceh. Saat itu Gubernur Jenderal Sloet van den Beele telah diganti dengan Mijer. Walaupun gubernur jenderal diganti sejak tahun 1866, baru tahun berikutnya Batavia menugaskan komandan kapal perang Willem membawa surat untuk sultan Aceh mengabarkan Beele telah pulang ke Netherland dan penggantinya ada Mijer.
                Surat disampaikan sesuai ketentuan protocol istana. Tapi, sultan Aceh tidak menjawab semua pertanyaan dari komandan Willem. Sultan Aceh sangat marah. Belanda tidak dapat dipercaya lagi. Jika Asahan diserang tanpa sebab, siapa lagi menyusul kalau bukan Aceh! Utusan Batavia pulang. Pengalaman ini menguatkan kesimpulannya bahwa untuk menyelesaikan soal Aceh, Belanda harus menyelesaikan “gangguan” dari Inggris sendiri. Dari pihak Inggris juga Nampak kemauannya sudah membayang jelas. Lawan Belanda di Singapura, Gubernur Cavenhagh, pada tahun 1867 telah dipanggil pulang. Rupanya dia marah terhadap keputusan itu. Sebelum kembali ke London, dia mengirim surat perpisahan kepada sultan Deli, yang isinya mengatakan bahwa jika Sultan ditekan Belanda supaya cepat member kabar kepada gubernur penggantinya, Harry St. George Ord, seorang yang tidak mau ditunggangi oleh kepentingan saudagar-saudagar. Dia mengatakan, kalau betul saudagar-saudagar Penang dirugikan oleh Belanda di Sumatera Timur, agar dibuktikan dulu apa kerugian itu. Belanda sedikit lega.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar